Siapakah yang
bisa menerima, dengan janji yang ternodai?
Itulah kata-kata yang selalu aku katakan
kepada teman-temanku ketika di tanya tentang hubunganku dengan adik kelasku,
Najma. Ia begitu banyak mengatakan dengan janji-janji semu, bertujuannya hanya sebagai
pelampiasan karena selalu disakiti oleh orang-orang yang dicintainya. Dalam hatinya terbesit
bahwa dia akan membalas sakit hati itu kepada siapapun yang diajumpai. Dan aku
orangnya. Aku hanya dijadikan jembatan untuk
mencari sesorang yang tepat dalam hatinya,
tanpa memikirkan perasaanku.
Sebenarnya, hubunganku dengan dia masih bersetatus
kaka-kadik yang selalu ada satu sama lain karena belum lama kenal, tapi dengan perputaran
waktu yang silih berganti , kini telah tumbuh
bibit-bibit cinta dalam hatiku. Namun aku masih menyimpannya sebab bibit-bibit cinta
yang ada padaku masih baru bersemi, masih harus dipupuk dengan baik.
Suatu ketika tanpa sepengetahuannya aku
pura-pura bertanya kepada teman kelasnya di hand
phone tentang keadaanya ketika di sekolah.
“Hai, Mel! Bagaimana keadaan adikku di
sekolahnya” dengan tiba-tiba Amel nanya sambil merajuk.
“Ada apa ‘ni? Kok nanya adiknya segala padahal selalu telfonan dan sms-an?”
“Gak
ada apa-apa Amel, kucuma nanya aja”
“Zain, perlu kamu tau bahwa teman-teman
di kelas sudah tahu tentang hubungan kamu
dengan adikmu”,
dengan cerita Amel aku tambah yakin akan perasaanku pada adaikku tapi aku masih
tidak berani mengungkapkan perasaanku karena aku pengen secara pelan-pelan untuk
mengetuk hatinya. Hingga setelah berhari-hari aku mencoba mengungkapkan perasaannku
dan akan menembaknya.
“Dik, aku tahu bahwa aku ini orang baru dalam hidupmu dan aku tidak pengen menjadikan
kamu barang mainan, tapi aku akan menjadikan kamu kekasih halal yang bisa mengisi
hari-hariku. Bagaimana menurutmu?” Sekilas rona
di wajahnya memerah. Namun ketegaran dan ketegasan sebagai seorang gadis yang
tersakiti masih tetap menghias di sana.
“Kakaku, tidak tahu dan aku tidak bisa ngasi jawaban sekarang”.
“Terus kira-kira kapan kamu akan ngasi jawaban, dik?”
“Sabar, kak. Jangan terburu-buru kalau dalam
urusan
seperti ini dan aku mohon sama kakak untuk menunggu selama satu bulan”.
“Baik,
dik. Aku akan tunggu jawaban kamu sampai bulan depan”.
***
Aku selalu bertanya pada diriku sendiri
mengenai jawaban yang akan dia ucapkan ketika waktuya sudah tiba. Kusering
termenung
dan tersenyum sendiri karena aku sudah punya harapan akan jawaban baik darinya yang
sesuai dengan keinginanku.
Ketika aku kontekan
atau sms-an, aku selalu bilang dan menghitung dari
waktu sebulan yang telah dia tentukan. Aku terus
mendekati teman
dekatnya untuk menciptakan keakraban dan jaringan
komunikasi jika suatu saat terjadi masalah atau kesalahpahaman dan mereka pun semua
mendukung aku untuk bersatu dan tidak ada kata-kata yang menolak dari mereka.
Najma
biasa berangkat pagi ke sekolah. Apalagi hari itu punya piket jaga pintu gerbang,
walaupun dia harus pakai jaket di luar baju
seragamnya
kerena kedinginan. Dan ketika sampai di sekolah dia langsung meletakkan
motornya di tempat parkir, terus ke kelasnya untuk
meletakkan
tas, lalu ke pintu gerbang untuk piket. Dan ketika baru duduk langsung disapa
oleh temannya yang pertama kali datang.
“Hai…! Met pagi Najma”. Sapa Amel pagi-pegi bener dari belakangnya.
“Pagi
juga Mel, kamu pagi juga datangnya?”
“Iya, ‘ni masih ada tugas yang harus di
selesaikan pagi ini”.
Hanya sendirian Najma duduk di balik pintu
gerbang sekolah menunggu teman-tamannya sambil mengangan kenangan indah ketika dia
mesra –mesraan dengan kakak kelasnya walaupun hanya dalam hand phone di tiap hari dan malamnya. Tapi entah kenapa pikirannya,
tiba-tiba dia melamun sampai mengingat pengkhianatan yang dilakukan orang-orang
yang pernah dia cintai hingga dia berpikir akan melampiaskan semua dendamnya kepada
orang-orang yang coba mengutarakan cinta padanya.
Aku kebetulan sudah sangat mencintainya
yang sedang menununggu jawaban demi ungkapan perasaan yang telah aku
lontarkan padanya.
Dengan lamunannya, Najma berada antara dalam kegelisahan dan bahagia karena ia
mengingat semua yang telah terjadi
padanya hingga dia tidak merasa kalau sudah banyak temannya yang datang tanpa
sepengetahuannya. Sampai-sampai dia tidak merasa kalau ada ibu guru di
sampingnya dan ibu guru itupun menyapanya namun
dia tetap tidak sadar.
“Nak...! Najma.....! Hei....nak...!”
“Aaaaa..iya iya, bu”
“ Kamu kenapa, nak? Kok melamun. Apa yang
kamu pikirkan hingga kamu tidak sadar”
“Enggak,
bu. Gak ada apa-apa”
“Enggak
ada apa-apa bagaimana kamu bengong mulai
dari tadi ibu panggil kamu gak menyahut”
“ Nggak, bu. Gak ada apa-apa” “
“Iya, sudah kalau begitu, ibu mau masuk dulu
tapi kalau ada apa-apa ceritalah pada ibu mungkin ibu bisa bantu. Ayo masuk
dulu ke kelasnya tutup gerbangnya sekarang sudah jam 7:00 WIB ”
“Baik, bu”.
****
Aku terus bersemangat belajar pelajaran-pelajaran
yang memeng aku sukai sambil menunggu jawaban dari Najma. Dan aku terus
mendekati semua teman-temannya yang memang selalu ada dalam hubunganku
dengannya.
Di saat aku sedang menunggu jawabannya, aku
sempat meminta fotonya tapi masih belum bisa namun tiap aku kontekan aku pasti menyindir
tentang foto itu karena aku sangat ingin punya sebagai teman tidurku selama penantianku
akan jawaban ungkapan perasaan yang aku katakan padanya.
Namun, dia memastikan bahwa aku pasti
memilikinya dan dia menyakinkan padaku, dan sempat terbesit dalam hatiku bahwa dia pasti
menerimaku setelah dia meyakinkanku bahwa aku pasti memiliki
fotonya.
Perasaan
senang dan takut selalu ada dalam hatiku karena bagitu lama dia meminta waktu untuk menjawab kepadaku. Tiap hari aku berjalan berangkat ke sekolah dengan jalan
kaki dengan semangat menggebu-ngebu karena aku harus
mengejar prestasiku. Dan di samping itu pula semangatku terus menggebu-gebu setela
ditopang dengan harapan mendapat jawaban baik dari addikku, Najma atas perasaan yang aku katakan padanya.
Setelah satu
bulan aku menjalani hari-hariku dengan perasaan terhantui dia antara bahagia dan takut. Aku bahagia
karena aku masih punyak harapan bahwa adikku, Najma pasti
menerima ungkapan perasaanku yang telah aku katakan pada bulan lalu. Namun di sisi lain, aku merasa takut karena apa yang
aku yakini tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapanku untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupku mencapai
ridha Allah swt di dunia sampai di akhirat nanti.
Besok aku akan mendengarkan keputusan dari
adikku, Najma. Apapun yang terjadi
dan jawaban apapun yang dia ujarkan kepadaku, aku harus menerima dengan ikhlas, karena apa yang dia ungkapkan pasti sudak sejalan dengan kehendak Allah swt.
Tepat jarum jam menunjukkan pukul 12:30 WIB, aku ambil HP-ku dan aku langsung menghubunginya dan nanya tentang apa
yang aku katakan pada bulan yang lalu dan dia pun langsung menjawab sesuai yang
ku harapkan “Dik apakah kamu masih ingat pada apa yang kamu janjikan
padakubahwa kamu akan menjawab ungkapan perasaanku cintaku setelah satu bulan?”
“Iya mas aku masih ingat pada janjiku bahwa aku akan menjawab setelah satu
bulan” “terus apakah kamu sudah punyak jawaban dan apakah kamu menerima aku apa
tidak?” “Iya mas semoga mendapat ridha Allah, iya aku menerima mas tapi aku
mohon hal ini jangan di katakan pada siapapun lebih-lebih pada teman kelasku
dan aku tidak pengen ada yang tau tentang perasaan dan hubungan yang terdjadi
diantara kita berdua” “memangnya kenapa dik kalauseandainya taman-teman kamu
ada yang tahu, lagian apa yang akan kita jawabkan pada mereka kalau ternyata
suatu saat mereka tahu, apa kira-kira meraka tidak akan kecewa pada kita dik?”
“ begini mas biarlah hubugan ini kita saja yang tau dan kita jalani dengan baik
tampa ada campur dari orang lain kerena kalau banyak yang tahu aku hawatir ada
diantara mereka yang tidak suka dan pengen merusaknya” ‘ baiklah kalau itu yang
menjadi keinginan kamu”.
setelah hari
itu dia langsung memberi beberapa foto padaku sebagaimana yang aku minta dulu
sebelum dia menjawab perasaan cinta yang ku ungkapkan padanya dan aku pun
tambah mencintainya bahkan aku sangat yakin bahwa dia adalah memeng jodohkuyang
akan menemaniku selamanya didunia sampai diakhirat kelak, sempat aku mengatakan
bahwa aku akan bilang pada keluargaku bahwa aku akan melamarnya tapi aku
dilarang bilang karena katanya dia masih pengen fokus sekolah tampa memikirkan
pertunangan dulu dan dia pun berjanji akan menunggu aku menjadi pendampingnya
dan aku pun sanggup menunggunya sampai dia sudah siap menerima lamaranku, dan dia berjanji akan menungu kedatangan ku dan keluargaku
ke rumahnya tapi masih suatu saat, akupun mau karena dia bagitu besar
memberiharapan padaku hingga ada kesepakatan antara aku dengan dia bahwa akan
melangsungkan pertunangan ketika dia sudah hampir lulus di SMA-nya.
(Ku persembahkan
buat yang punyak tetala: 25 Agustus 1999)
“Oleh: Taufiq Umar”
Karyawan MD 2
Annuqayah Guluk-guluk Sumenep . Bermukim di kompleks PPA Daerah Kebun
Jeruk. HP: 085230782176
Tidak ada komentar:
Posting Komentar