Rabu, 03 Oktober 2018

KUTERBUAI DALAM JANJIMU

Siapakah yang bisa menerima, dengan janji yang ternodai?
Itulah kata-kata yang selalu aku katakan kepada teman-temanku ketika di tanya tentang hubunganku dengan adik kelasku, Najma. Ia begitu banyak mengatakan dengan janji-janji semu, bertujuannya hanya sebagai pelampiasan karena selalu disakiti oleh orang-orang yang dicintainya.  Dalam hatinya terbesit bahwa dia akan membalas sakit hati itu kepada siapapun yang diajumpai. Dan aku orangnya. Aku hanya  dijadikan jembatan untuk mencari sesorang yang tepat dalam hatinya,  tanpa memikirkan perasaanku.
Sebenarnya, hubunganku dengan dia masih bersetatus kaka-kadik yang selalu ada satu sama lain karena belum lama kenal, tapi dengan perputaran waktu yang  silih berganti , kini telah tumbuh bibit-bibit cinta dalam hatiku. Namun aku masih menyimpannya sebab bibit-bibit cinta yang ada padaku masih baru bersemi, masih harus dipupuk dengan baik.  
Suatu ketika tanpa sepengetahuannya aku pura-pura bertanya kepada teman kelasnya di hand phone tentang keadaanya ketika di sekolah.
“Hai, Mel! Bagaimana keadaan adikku di sekolahnya” dengan tiba-tiba Amel nanya sambil merajuk.
Ada apa ‘ni? Kok nanya adiknya segala padahal selalu telfonan dan sms-an?
Gak ada apa-apa Amel, kucuma nanya aja
“Zain, perlu kamu tau bahwa teman-teman di  kelas sudah tahu tentang hubungan kamu dengan adikmu”, dengan cerita Amel aku tambah yakin akan perasaanku pada adaikku tapi aku masih tidak berani mengungkapkan perasaanku karena aku pengen secara pelan-pelan untuk mengetuk hatinya. Hingga setelah berhari-hari aku mencoba mengungkapkan perasaannku dan akan menembaknya.
            “Dik, aku tahu bahwa aku ini orang  baru dalam hidupmu dan aku tidak pengen menjadikan kamu barang mainan, tapi aku akan menjadikan kamu kekasih halal yang bisa mengisi hari-hariku. Bagaimana menurutmu?” Sekilas rona di wajahnya memerah. Namun ketegaran dan ketegasan sebagai seorang gadis yang tersakiti masih tetap menghias di sana.
“Kakaku, tidak tahu dan aku tidak bisa ngasi jawaban sekarang”.
“Terus kira-kira kapan kamu akan ngasi jawaban, dik?”
“Sabar, kak. Jangan terburu-buru kalau dalam urusan seperti ini dan aku mohon sama kakak untuk menunggu selama satu bulan”.
 “Baik, dik. Aku akan tunggu jawaban kamu sampai bulan depan”.
***
            Aku selalu bertanya pada diriku sendiri mengenai jawaban yang akan dia ucapkan ketika waktuya sudah tiba. Kusering termenung dan tersenyum sendiri karena aku sudah punya harapan akan jawaban baik darinya yang sesuai dengan keinginanku.
Ketika aku kontekan atau sms-an, aku selalu bilang dan menghitung dari waktu sebulan yang telah dia tentukan. Aku terus mendekati teman dekatnya untuk menciptakan keakraban dan jaringan komunikasi jika suatu saat terjadi masalah atau kesalahpahaman dan mereka pun semua mendukung aku untuk bersatu dan tidak ada kata-kata yang menolak dari mereka.
            Najma biasa berangkat pagi ke sekolah. Apalagi hari itu punya piket jaga pintu gerbang, walaupun dia harus pakai jaket di luar baju seragamnya kerena kedinginan. Dan ketika sampai di sekolah dia langsung meletakkan motornya di tempat parkir, terus ke kelasnya untuk meletakkan tas, lalu ke pintu gerbang untuk piket. Dan ketika baru duduk  langsung disapa oleh temannya yang pertama kali datang.
“Hai…! Met pagi Najma”. Sapa Amel pagi-pegi bener dari belakangnya.
 “Pagi juga Mel, kamu pagi juga datangnya?”
“Iya, ‘ni masih ada tugas yang harus di selesaikan pagi ini”.
Hanya sendirian Najma duduk di balik pintu gerbang sekolah menunggu teman-tamannya sambil mengangan kenangan indah ketika dia mesra –mesraan dengan kakak kelasnya walaupun hanya dalam hand phone di tiap hari dan malamnya. Tapi entah kenapa pikirannya, tiba-tiba dia melamun sampai mengingat pengkhianatan yang dilakukan orang-orang yang pernah dia cintai hingga dia berpikir akan melampiaskan semua dendamnya kepada orang-orang yang coba mengutarakan cinta padanya.
Aku kebetulan sudah sangat mencintainya yang sedang menununggu jawaban demi ungkapan perasaan yang telah aku lontarkan padanya. Dengan lamunannya, Najma berada antara dalam kegelisahan dan bahagia karena ia mengingat semua yang  telah terjadi padanya hingga dia tidak merasa kalau sudah banyak temannya yang datang tanpa sepengetahuannya. Sampai-sampai dia tidak merasa kalau ada ibu guru di sampingnya dan ibu guru itupun menyapanya namun dia tetap tidak sadar.
 “Nak...! Najma.....! Hei....nak...!”
“Aaaaa..iya iya, bu”
“ Kamu kenapa, nak? Kok melamun. Apa yang kamu pikirkan hingga kamu tidak sadar”
Enggak, bu. Gak ada apa-apa”
Enggak ada apa-apa bagaimana kamu bengong mulai dari tadi ibu panggil kamu gak menyahut”
“ Nggak, bu. Gak ada apa-apa” “
“Iya, sudah kalau begitu, ibu mau masuk dulu tapi kalau ada apa-apa ceritalah pada ibu mungkin ibu bisa bantu. Ayo masuk dulu ke kelasnya tutup gerbangnya sekarang sudah jam 7:00 WIB ”
“Baik, bu”.
****
Aku terus bersemangat belajar pelajaran-pelajaran yang memeng aku sukai sambil menunggu jawaban dari Najma. Dan aku terus mendekati semua teman-temannya yang memang selalu ada dalam hubunganku dengannya.
Di saat aku sedang menunggu jawabannya, aku sempat meminta fotonya tapi masih belum bisa namun tiap aku kontekan aku pasti menyindir tentang foto itu karena aku sangat ingin punya sebagai teman tidurku selama penantianku akan jawaban ungkapan perasaan yang   aku katakan padanya.
Namun, dia memastikan bahwa aku pasti memilikinya dan dia menyakinkan padaku,  dan sempat terbesit dalam hatiku bahwa dia pasti menerimaku setelah dia meyakinkanku bahwa aku pasti memiliki fotonya.
 Perasaan senang dan takut selalu ada dalam hatiku karena bagitu lama  dia meminta waktu untuk menjawab kepadaku. Tiap hari aku berjalan berangkat ke sekolah dengan jalan kaki dengan semangat menggebu-ngebu karena aku harus mengejar prestasiku. Dan di samping itu pula semangatku terus menggebu-gebu setela ditopang dengan harapan mendapat jawaban baik dari addikku, Najma atas perasaan yang aku katakan padanya.
Setelah satu bulan aku menjalani hari-hariku dengan perasaan terhantui dia antara bahagia dan takut. Aku bahagia karena aku masih punyak harapan bahwa adikku, Najma pasti menerima ungkapan perasaanku yang telah aku katakan pada bulan lalu. Namun di sisi lain, aku merasa takut karena apa yang aku yakini tidak sesuai dengan apa yang menjadi harapanku untuk menjadikannya sebagai pendamping hidupku mencapai ridha Allah swt di dunia sampai di akhirat nanti.
 Besok aku akan mendengarkan keputusan dari adikku, Najma. Apapun yang terjadi dan jawaban apapun yang dia ujarkan kepadaku, aku harus menerima dengan ikhlas, karena apa yang dia ungkapkan pasti sudak sejalan dengan kehendak Allah swt.
Tepat jarum jam menunjukkan pukul 12:30 WIB, aku ambil HP-ku dan aku langsung menghubunginya dan nanya tentang apa yang aku katakan pada bulan yang lalu dan dia pun langsung menjawab sesuai yang ku harapkan “Dik apakah kamu masih ingat pada apa yang kamu janjikan padakubahwa kamu akan menjawab ungkapan perasaanku cintaku setelah satu bulan?” “Iya mas aku masih ingat pada janjiku bahwa aku akan menjawab setelah satu bulan” “terus apakah kamu sudah punyak jawaban dan apakah kamu menerima aku apa tidak?” “Iya mas semoga mendapat ridha Allah, iya aku menerima mas tapi aku mohon hal ini jangan di katakan pada siapapun lebih-lebih pada teman kelasku dan aku tidak pengen ada yang tau tentang perasaan dan hubungan yang terdjadi diantara kita berdua” “memangnya kenapa dik kalauseandainya taman-teman kamu ada yang tahu, lagian apa yang akan kita jawabkan pada mereka kalau ternyata suatu saat mereka tahu, apa kira-kira meraka tidak akan kecewa pada kita dik?” “ begini mas biarlah hubugan ini kita saja yang tau dan kita jalani dengan baik tampa ada campur dari orang lain kerena kalau banyak yang tahu aku hawatir ada diantara mereka yang tidak suka dan pengen merusaknya” ‘ baiklah kalau itu yang menjadi keinginan kamu”.
setelah hari itu dia langsung memberi beberapa foto padaku sebagaimana yang aku minta dulu sebelum dia menjawab perasaan cinta yang ku ungkapkan padanya dan aku pun tambah mencintainya bahkan aku sangat yakin bahwa dia adalah memeng jodohkuyang akan menemaniku selamanya didunia sampai diakhirat kelak, sempat aku mengatakan bahwa aku akan bilang pada keluargaku bahwa aku akan melamarnya tapi aku dilarang bilang karena katanya dia masih pengen fokus sekolah tampa memikirkan pertunangan dulu dan dia pun berjanji akan menunggu aku menjadi pendampingnya dan aku pun sanggup menunggunya sampai dia sudah siap menerima lamaranku, dan dia berjanji akan menungu kedatangan ku dan keluargaku ke rumahnya tapi masih suatu saat, akupun mau karena dia bagitu besar memberiharapan padaku hingga ada kesepakatan antara aku dengan dia bahwa akan melangsungkan pertunangan ketika dia sudah hampir lulus di SMA-nya.

(Ku persembahkan buat yang punyak tetala: 25 Agustus 1999)
“Oleh: Taufiq Umar”
Karyawan MD 2 Annuqayah Guluk-guluk Sumenep . Bermukim di kompleks PPA Daerah Kebun Jeruk. HP: 085230782176




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tampilan Cover edisi 3