Rabu, 03 Oktober 2018

HIMMAH, SATU SYARAT KEBERHASILAN



Oleh: Helmi Usman, M.Pd.

            Mari Belajar dari Cerita Kancil dan Siput Hutan
            Suatu waktu, saya tiba-tiba teringat tentang cerita kancil dan siput yang berkompetisi untuk menang dalam lomba lari. Batasnya sudah ditentukan dengan jarak yang—setidaknya seperti yang saya dengar dulu sebagai pengantar tidur-, lumayan jauh. Barangkali sebagian dari kalian pernah mendengar cerita itu. Pertandingan yang tidak adil, bukan? Mustahil secara akal. Tidak bisa dinalar pikiran. Kancil dengan postur tubuhnya yang mendukung, larinya yang lincah dan cepat, bertanding lari dengan siput yang jalan saja masih terengah-engah, apalagi berlari. Dari sini, kiranya perlu saya sampaikan kembali, agar menjadi sumbangsih dalam membangun aspirasi, dan semoga jadi sumber motivasi untuk mengafirmasi diri agar lebih baik ke depannya, terutama untuk para remaja pelajar atau santri di manapun.
****
             Untuk berhasil, kita butuh proses. Dan dalam proses itu, motivasi dan semangat adalah dua hal yang niscaya ada dalam setiap aspek kehidupan, terutama bagi remaja yang secara mayoritas masih dalam tahap pencarian identitas, sebab semangat dan motivasi adalah hal langka yang membutuhkan usaha untuk mendapatkannya.
Setidaknya, saya melihat pada perkembangan atau dinamika keilmuan saat ini, ada dua hal yang menjadi sebab “dekadensi” semangat itu bisa terjadi.
            Pertama, modernisasi yang sedianya sudah sejak awal abad XX terjadi, kini semakin menyemai dalam realitas nyata. Kemajuan teknologi-komunikasi yang meningkat dengan signifikan, nyatanya membawa dualitas efek yang tak terbantahkan; di satu sisi, teknologi memang membawa kemudahan, fasilitas semakin lengkap, dan kita tak perlu repot lagi seperti zaman old. Akan tetapi, di sisi yang lain, ia juga membawa pengaruh buruk yang diakui atau tidak, itu benar adanya. Misalkan, dalam ranah pendidikan, pelajar yang rata-rata masih usia remaja seringkali disibukkan dengan gadget mereka. Tidak peduli tempat. Sama tidak pedulinya kapan mereka harus berhenti mengoperasikannya. Itu bisa dimaklumi, karena secara psikologis, mereka masih dalam tahap transisi dari masa remaja untuk menjadi dewasa.
Pada masa ini, mereka cenderung penasaran untuk mencoba hal-hal yang baru. Tetapi, jika dibiarkan berlarut-larut, apalagi sesuatu yang tidak berguna, malah akan jadi masalah. Akibatnya, semangat dan motivasi untuk belajar semakin berkurang karena “seluruh” waktunya sudah dihabiskan untuk gadget mereka.
            Kedua, kurangnya kesadaran diri. Barangkali untuk faktor yang kedua ini, mareka yang miskin semangat dan motivasi untuk belajar, adalah orang-orang yang tidak memiliki impian dan mimpi-mimpi. Sebab, mimpi adalah awal dari segalanya.     
Dalam salah satu bukunya, Imam Az Zarnuji menjelaskan bahwa ada enam syarat yang harus dimiliki dan dilakukan oleh mereka, yaitu cerdas, kemauan tinggi, sabar, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.
            Ke-enam syarat tersebut sama-sama penting. Tapi, bagi saya, ada tiga syarat yang lebih prinsipiel untuk dijelaskan kembali; kemauan tinggi, sabar, dan waktu yang panjang. Sebab, cerdas, biaya, dan bimbingan guru, semua orang pasti sudah pada memiliki. Pertama, kemauan tinggi. Dalam bukunya, secara filosofis az Zarnuji membahasakannya dengan kata “al Hirsu”, yang secara harfiah berarti tamak. Tamak indikasinya adalah kemauan besar untuk memiliki. Nah, dalam ranah keilmuan,beliau juga menggunakannya untuk menjelaskan bahwa kita harus berkemauan besar untuk mendapatkan ilmu. Mencarinya sebanyak mungkin. Sebab, seperti yang kita ketahui bersama bahwa ilmu adalah cahaya. Tugas kita adalah mengumpulkannya, kemudian menjadikannya spektrum warna indah yang menghiasi kehidupan kita mendatang. Kedua, sabar. Berasal dari Bahasa Arab as shabru yang berarti menahan dari sesuatu. Maka dalam beberapa literatur keislaman, sabar dibagi menjadi tiga macam; menahan untuk tetap setia pada ketaatan, menahan diri untuk menjauhi kemaksiatan, dan yang terakhir adalah menahan diri dari godaan syahwat atau keinginan-keinginan sensasional. Ketiga, waktu yang panjang. Untuk menjadi pribadi yang baik, proses adalah hal yang mesti tetap dilakukan. Tidak ada yang instan. Semuanya butuh waktu dan usaha. Termasuk untuk memperoleh ilmu itu sendiri.
Ketiga syarat yang telah saya jelaskan, memliki line circle yang berputar pada satu basis, yaitu himmah (cita-cita). Ia adalah motivator penting dalam kehidupan kita. Tidak akan pernah ada kemauan tinggi jika tidak ada yang mau dicapai, tidak akan bisa sabar jika tidak ada hal yang diharapkan, dan tidak akan pula dapat berdiri, setia pada proses yang panjang juga melelahkan jika misalkan kita tidak memiliki harapan yang menopang.

“Jadilah seseorang yang meski kakinya berpijak di Bumi, tetapi cita-citanya terpatri di bintang kartika.” (Ibnu Athaillah as Sakandari)
“Seseorang terbang dengan cita-citanya, laiknya burung yang terbang dengan kedua sayapnya.” (Az Zarnuji)

Pertanyaannya adalah mengapa harus ada kata “belajar”? Karena tanpa belajar, kita nyaris mustahil untuk mendapatkan ilmu. Dan tanpa ilmu, juga hampir tidak mungkin kita bisa berkreasi dan berinovasi sebagai bentuk konkret dari fitrah keistimewaan kita sebagai manusia. Lalu, mengapa harus remaja—bahasa kitabnya Syubban? Karena di usia 11 ke 19 tahun itulah organ tubuh kita masih sehat dan mendukung untuk tetap berjuang meski sangat melelahkan. Kira-kira begitulah alasan Az-Zarnuji di atas. Saya tambahkan, Syekh Musthafa al-Ghilani dalam bukunya juga pernah berkata lantang, “Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok.”  Kewajiban seorang pemimpin adalah mendidik, mengayomi, dan membimbing rakyatnya dalam segala aspek. Maka, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin jika tidak  berilmu?
Pada akhirnya, ilmu adalah segalanya. Dan adanya himmah adalah sebagai satu syarat keberhasilan bisa dicapai!
***
Ada Apa dengan Kancil?
Lalu, meski begitu, kenapa kancil bisa kalah? Karena ia merasa lebih baik sehingga merasa tidak perlu lagi untuk berjuang lebih. Karena himmahnya kecil. Sedangkan siput, oleh karena ia memiliki himmah yang besar untuk mengalahkan kancil, ia merasa perlu untuk tetap berjuang meski dengan tertatih. Bersabar dengan perjuangan yang melelahkan. Juga membutuhkan waktu yang begitu panjang. Akhirnya, kancil lah yang gugur, dan siput yang keluar sebagai pemenang.Wallhu a’lam@   

Guluk-guluk, 14 Maret 2018

Penulis dalam kesehariannya adalah bagian pustakawan INSTIKA Guluk-Guluk, dan salah satu Guru di MTs 1 Putri Annuqayah yang mengampu mata pelajaran Akidah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tampilan Cover edisi 3