Oleh: Helmi Usman, M.Pd.
Mari Belajar dari Cerita Kancil dan Siput
Hutan
Suatu
waktu, saya tiba-tiba teringat tentang cerita kancil dan siput yang
berkompetisi untuk menang dalam lomba lari. Batasnya sudah ditentukan dengan
jarak yang—setidaknya seperti yang saya dengar dulu sebagai pengantar tidur-,
lumayan jauh. Barangkali sebagian dari kalian pernah mendengar cerita itu. Pertandingan
yang tidak adil, bukan? Mustahil secara akal. Tidak bisa dinalar pikiran. Kancil
dengan postur tubuhnya yang mendukung, larinya yang lincah dan cepat,
bertanding lari dengan siput yang jalan saja masih terengah-engah, apalagi berlari.
Dari sini, kiranya perlu saya
sampaikan kembali, agar menjadi sumbangsih dalam membangun aspirasi, dan semoga
jadi sumber motivasi untuk mengafirmasi diri agar lebih baik ke depannya,
terutama untuk para remaja pelajar atau santri di manapun.
****
Untuk berhasil, kita butuh proses. Dan dalam
proses itu, motivasi dan semangat adalah dua hal yang niscaya ada dalam setiap
aspek kehidupan, terutama bagi remaja yang secara mayoritas masih dalam tahap
pencarian identitas, sebab semangat dan motivasi adalah hal langka yang
membutuhkan usaha untuk mendapatkannya.
Setidaknya, saya melihat pada
perkembangan atau dinamika keilmuan saat ini, ada dua hal yang menjadi sebab “dekadensi”
semangat itu bisa terjadi.
Pertama,
modernisasi yang sedianya sudah sejak awal abad XX terjadi, kini semakin
menyemai dalam realitas nyata. Kemajuan teknologi-komunikasi yang meningkat
dengan signifikan, nyatanya membawa dualitas efek yang tak terbantahkan; di
satu sisi, teknologi memang membawa kemudahan, fasilitas semakin lengkap, dan
kita tak perlu repot lagi seperti zaman old.
Akan tetapi, di sisi yang lain, ia juga membawa pengaruh buruk yang diakui atau
tidak, itu benar adanya. Misalkan, dalam ranah pendidikan, pelajar yang
rata-rata masih usia remaja seringkali disibukkan dengan gadget mereka. Tidak peduli tempat. Sama tidak pedulinya kapan
mereka harus berhenti mengoperasikannya. Itu bisa dimaklumi, karena secara
psikologis, mereka masih dalam tahap transisi dari masa remaja untuk menjadi
dewasa.
Pada masa ini, mereka cenderung
penasaran untuk mencoba hal-hal yang baru. Tetapi, jika dibiarkan berlarut-larut,
apalagi sesuatu yang tidak berguna, malah akan jadi masalah. Akibatnya,
semangat dan motivasi untuk belajar semakin berkurang karena “seluruh” waktunya
sudah dihabiskan untuk gadget mereka.
Kedua,
kurangnya kesadaran diri. Barangkali untuk faktor yang kedua ini, mareka yang
miskin semangat dan motivasi untuk belajar, adalah orang-orang yang tidak
memiliki impian dan mimpi-mimpi. Sebab, mimpi adalah awal dari segalanya.
Dalam salah satu bukunya, Imam Az
Zarnuji menjelaskan bahwa ada enam syarat yang harus dimiliki dan dilakukan
oleh mereka, yaitu cerdas, kemauan tinggi, sabar, biaya, bimbingan guru, dan
waktu yang panjang.
Ke-enam
syarat tersebut sama-sama penting. Tapi, bagi saya, ada tiga syarat yang lebih
prinsipiel untuk dijelaskan kembali; kemauan tinggi, sabar, dan waktu yang
panjang. Sebab, cerdas, biaya, dan bimbingan guru, semua orang pasti sudah pada
memiliki. Pertama, kemauan tinggi. Dalam bukunya, secara filosofis az
Zarnuji membahasakannya dengan kata “al Hirsu”, yang secara harfiah
berarti tamak. Tamak indikasinya adalah kemauan besar untuk memiliki. Nah,
dalam ranah keilmuan,beliau juga menggunakannya untuk menjelaskan bahwa kita
harus berkemauan besar untuk mendapatkan ilmu. Mencarinya sebanyak mungkin. Sebab,
seperti yang kita ketahui bersama bahwa ilmu adalah cahaya. Tugas kita adalah
mengumpulkannya, kemudian menjadikannya spektrum warna indah yang menghiasi
kehidupan kita mendatang. Kedua, sabar. Berasal dari Bahasa Arab as
shabru yang berarti menahan dari sesuatu. Maka dalam beberapa literatur
keislaman, sabar dibagi menjadi tiga macam; menahan untuk tetap setia pada ketaatan,
menahan diri untuk menjauhi kemaksiatan, dan yang terakhir adalah menahan diri
dari godaan syahwat atau keinginan-keinginan sensasional. Ketiga, waktu
yang panjang. Untuk menjadi pribadi yang baik, proses adalah hal yang mesti
tetap dilakukan. Tidak ada yang instan. Semuanya butuh waktu dan usaha. Termasuk
untuk memperoleh ilmu itu sendiri.
Ketiga syarat yang telah saya
jelaskan, memliki line circle yang berputar pada satu basis, yaitu himmah
(cita-cita). Ia adalah motivator penting dalam kehidupan kita. Tidak akan pernah
ada kemauan tinggi jika tidak ada yang mau dicapai, tidak akan bisa sabar jika
tidak ada hal yang diharapkan, dan tidak akan pula dapat berdiri, setia pada
proses yang panjang juga melelahkan jika misalkan kita tidak memiliki harapan
yang menopang.
“Jadilah seseorang yang meski kakinya
berpijak di Bumi, tetapi cita-citanya terpatri di bintang kartika.” (Ibnu
Athaillah as Sakandari)
“Seseorang terbang dengan
cita-citanya, laiknya burung yang terbang dengan kedua sayapnya.” (Az Zarnuji)
Pertanyaannya adalah mengapa
harus ada kata “belajar”? Karena tanpa belajar, kita nyaris mustahil untuk
mendapatkan ilmu. Dan tanpa ilmu, juga hampir tidak mungkin kita bisa berkreasi
dan berinovasi sebagai bentuk konkret dari fitrah keistimewaan kita sebagai
manusia. Lalu, mengapa harus remaja—bahasa kitabnya Syubban? Karena di
usia 11 ke 19 tahun itulah organ tubuh kita masih sehat dan mendukung untuk
tetap berjuang meski sangat melelahkan. Kira-kira begitulah alasan Az-Zarnuji
di atas. Saya tambahkan, Syekh Musthafa al-Ghilani dalam bukunya juga pernah
berkata lantang, “Pemuda hari ini adalah
pemimpin hari esok.” Kewajiban
seorang pemimpin adalah mendidik, mengayomi, dan membimbing rakyatnya dalam
segala aspek. Maka, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin jika
tidak berilmu?
Pada akhirnya, ilmu adalah
segalanya. Dan adanya himmah adalah sebagai satu syarat keberhasilan
bisa dicapai!
***
Ada Apa dengan Kancil?
Lalu, meski begitu, kenapa
kancil bisa kalah? Karena ia merasa lebih baik sehingga merasa tidak perlu lagi
untuk berjuang lebih. Karena himmahnya kecil. Sedangkan siput, oleh
karena ia memiliki himmah yang besar untuk mengalahkan kancil, ia merasa
perlu untuk tetap berjuang meski dengan tertatih. Bersabar dengan perjuangan
yang melelahkan. Juga membutuhkan waktu yang begitu panjang. Akhirnya, kancil
lah yang gugur, dan siput yang keluar sebagai pemenang.Wallhu a’lam@
Guluk-guluk, 14 Maret 2018
Penulis dalam kesehariannya adalah bagian pustakawan INSTIKA
Guluk-Guluk, dan salah satu Guru di MTs 1 Putri Annuqayah yang mengampu mata
pelajaran Akidah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar