Puisi-Puisi Fina Herlina
Tangis 1/3 Malam
Tangis 1/3 Malam
Aku adalah darah yang membeku
Menjadi perantara pengkhianatan yang mengharu-biru
Aku pernah malu saat mengelana terantuk sembilu
Aku pernah layu saat daun kerinci berkuntum mawar kelabu
Di sela isak tangisku
Ada api yang menakutiku
Membaiatku seakan diri ini calon abadi dalam tungku api-Mu
Yang akan membuatku leleh dari segala dosa yang membeku
Aku malu pada asap yang mengepul di antara stupa
Yang menjadi tanda bahwa Sang Hiyang Widi Washa masih disapa
Aku malu pada burung gereja yang hinggap di sela prosesi Misa
Yang berseru membawa kisah kasih al-Masih Nabi Isa
Aku malu pada bumi yang selalu menerima hujan asa
Yang bertanda bahwa langit masih kukuh menerima doa
Aku malu setelah tangisku pecah di 1/3 malam menghitung selaksa dosa
Dan kemudian senyap di sela-sela munajah kepada sang Maha Ada.
SMA 3 Annuqayah; 12/12/18
Alif yang Kalbu
Derai hujan basahi tubuh
Tengak tak berlenggok
Terbujur kaku dalam genggaman kalbu
Getar tanpa arah
Getir tiada arti
Alifmu yang kalbu
Menjelma dalam lautan
Terbang bersama angan
Lantaran alifmu
Hanya menjadi ilusi
Dalam kalbuku
SMA 3 Annuqayah; 20/12/18
Perihal Bosanku
Apa yang terjadi pada diri
Jika bosan menggemuruh hati
Apakah engkau akan menari
Bersama kepak sayap burung yang tinggi
Bosan melanda diri
Hati rasa patah buat kumati
Bosan
Aku bosan
Melihat awan selalu pekat
Bosan
Aku bosan
Melihat hujan selalu dingin
Bosan
Aku bosan
Saat angin meniup debu terbang membuat sesak
Karang Jati; 13/12/18
Bintang di Balik Malam
Gemerlap bintang hiasi gulita malam
Gelap pada titik acuan yang kelam
Perlahan tapi pasti
Merekah senyum beraroma bahagia
Ada sajak bintang
Di balik malam
Yang bernuansa suci
Merebahkan harapan hati
Menyongsong mimpi
Di setiap gelap malam
Karang jati; 14/12/18
Persetan dengan Janji
Suatu suka dalam duka
Menyimpan suka-duka bersama
Kau Tahu?
Kau berubah bak serigala memburu
Mencari mangsa ke sana ke mari
Tanpa sadar kau lukai sang penanti fajar
Mengajak hati yang tak beralas iman
Melukai kesucian diri
Untung saja
Diri ini masih dapat menggapai marwah
Andai tidak, kemana akan berlabuh?
Sebab kau pengkhianat sejati
Janjimu itu palsu
Sebiduk dan senahkoda dengan pengkhianat
Adalah pengkhiatan sejati
Dan menenggelamkan diri ke samudera nafsu
Gejolak membara itu adalah sejatimu
Gelora api itu adalah baramu
Tunggu saat yang tepat
Kau akan terbakar sendiri
Bersama janji-janji palsumu
Bersama gadis-gadismu yang ternoda
Karang jati; 14/12/18
Aku
Aku yang kau anggap pendusta
Hina seakan onggokan sampah
Kau kira aku hanya mawar merah
Mekar kau petik
Ranom kau ciumi
Layu kau tinggalkan!
Gila amat diriku
Jika tak paham gelagat rayumu
Pecundang sekali aku
Jika tak tahu hasrat burukmu
Dan nista aku
Jika sebumbung denganmu
Aku memang wanita biasa
Bukan wanita luar biasa
Aku juga pernah terhempas
Oleh badai kehidupan yang ganas
Aku juga pernah layu
Terkungkung dalam rayuan sendu
Namun
Aku adalah insani
Yang akan selalu berupaya perbaiki diri
Sebab jati diriku adalah perubahan
Karang Jati; 17/12/18
Dzal pada Fa’mu yang Duka
Fa’
Mengikrarkan tentang janji
Yang kian berlabuh di hati
Beriringan di antara janji-janji suci
Fa’
Kau tak menyatu bersama luka
Menjadikan dzal sebagai penyapa
Dzal
Kau sajak bagiku
Kau janjikan puisi tentang kita
Yang kian tak kudapat secuil cerita
Dzal
Kau bagaikan fathah sejati
Temani fa’ bersama fi’il madzi sendiri
Dzal
Kau taruh luka pada hati yang duka
Kau menyayat hati hingga mati
Kini luka, perih, dan sakit terasa
Aku tak tahu luka apa yang kau beri
Hingga yang terasa hanya pedih
SMA 3 Annuqayah; 24/12/18